Tuesday, April 22, 2008
Sunday, January 20, 2008
Selasa, 23 Oktober 2007 – Fourth Day in Malang
Setelah berganti tahun (baca : Januari 2008), ahirnya gue baru bisa dan cukup kuat untuk menceritakan hari terakhir gue dimalang. Di hari keempat ini rencananya gue akan pulang dengan menggunakan pesawat ke jakarta dari bandara abdurrahman saleh pada siang harinya dan insya allah sampai dijakarta pada petang atau sore harinya.
Tapi sebelum semua itu gue harus packing barang dulu dan mempersiapkan tas yang perlu dibawa apa aja, yang pasti gue akan bawa 3 jenis tas mulai dari ransel berisi laptop, koper berisi baju dan kardus berisi keripik.. hiks..hiks..hikss.., secara gitu temen gue kantor pada suka ngemil dan camilan gratisan. Mungkin kalo dikasih racun juga bakalan dimakan kalo emang rasanya enak.. He..he.. Piss yo..
Oh iya tapi sebelumnya lagi gue akan bertemu dengan pujaan hati. Tahun ini gue udah tidak mau memanggilnya dengan nama miss R, tapi aku kini memberinya nama baru yaitu starlight (cahaya bintang).
Starlight datang ke hotel pada pagi hari sekitar jam 10an. Dimana gue sudah mempersiapkan diri baik itu mental ataupun psikis untuk ngomong sama starlight bahwa gue mencintainya dan mau menjalin suatu hubungan yang lebih serius ketimbang teman. Akhirnya starlight (baca : Ratih) datang sendiri menggunakan motornya. Kemudian saya mengajaknya tuk naik dan masuk ke kamar. Didalam kamar itu saya mulai dengan obrolan-obrolan gak penting sehingga pada suatu saat gue bertanya sebelumnya sama dia seperti ini. “Ratih kamu sebenarnya sudah punya pacar belum sih..??”. Kemudian starlight menjawab dengan senyuman dan mencoba mengalihkan pembicaraan kerah yang lain.
Dari situ sebenarnya saya mulai curiga ada sesuatu yang aneh darinya yang tidak seperti biasanya. Akhirnya setelah hampir 3 kali aku menanyakan hal yang sama akhirnya diapun menjawab. Dan seperti yang kalian kira bahwa dia menjawab dengan bilang “iya.. saya sudah punya mas..”. Waktu pada saat itu seperti terhenti, dada terasa sesak, hati hancur berkeping-keping dan semangat hidup pun hilang. Saya waktu itu mau mencoba tuk yang keempat kali tuk bilang suka padanya, saya hanya siap dengan perkataan ditolak ataupun diterima. Namun untuk pembicaraan bahwa dia sudah memiliki seseorang itu sama sekali tidak terkira oleh diriku.
Dari situ pula aku mengajaknya tuk check out dari hotel. Damn, i’m gonna miss that hotel.. Di lobby hotel obrolan yang sama-sama kita keluarkan sudah mulai terasa gak penting. Dia membicarakan apa dan saya coba menanyakan siapa pacarnya itu. Sampai pada akhirnya gue coba meninggalkan dia di lobby sebentar tuk menelepon keluar, sebenarnya itu hanya alasan agar aku bisa menjauh sebentar, at least untuk menghirup nafas. Dimana dada ketika itu terasa sangat sesak dan hancur. Yang kalo dipikir sampai saat ini saya di jakarta, saya gak tau harus mulai dari mana memungut serpihan hatiku yang hancur itu.
Tapi itulah hidup dan realita cinta ku, ketika saya mencintai dan menyayangi seseorang dengan apa adanya dan orang itu tidak sebaliknya. Mungkin itu yang disebut orang baik untuk orang yang baik pula. Mungkin saya tidak cukup baik bagi Starlight (baca: Ratih). Mungkin bukan cintanya yang salah namun keadaaanya yang salah. Mungkin saya yang salah karna terlalu memaksakan semuanya termasuk keadaan dan Starlight (baca: Ratih) itu sendiri.
Pukul 12 siang akhirnya travel yang menjemputku untuk mengantarkanku menuju bandara Abdurrahman saleh akhirnya datang. Tiba waktunya bagi saya dan Starlight (baca: Ratih) untuk berpisah dan mengucapkan salam perpisahan. Entah kapan aku akan bertemu dengannya lagi, entah kapan aku akan ke malang lagi tuk bertemu dengannya, entah apa dia mau menemuiku lagi, entah apakah dia pernah menyukaiku atau tidak, entah apakah nanti aku akan mempunyai kesempatan untuk membuktikan cintaku yang tulus dan apa adanya ini padanya suatu saat nanti.. Hanya waktu yang bisa menjawab dan hanya Allah SWT yang akan menentukan nasib seseorang.
Sesampainya dibandara Abdurrahman Saleh, semua tertumpah begitu saja. Tiba-tiba saja mataku berkaca-kaca. Sampai hari ini pun aku bertanya, begitu dalamnya kah cintaku padanya? Sebegitu pantasnya kah dia untuk mendapatkan air mataku?. Akhirnya sebelum menuju ke pesawat aku sempat melihat yang mendung ketika itu dan mencoba tuk menghadapi kenyataan yang ada ini.
Setibanya di bandara Soekarno-Hatta, aku mengucapkan kepada semua temanku yang telah membantuku selama ini dan men-support ketika saya mengejar Ratih. Saya pulang dengan hati hancur, saya datang ke jakarta dengan hati sedih. Saya tidak tahu mau berbuat apa lagi, mau dibawa kemana hati ini. Apakah salah mencintai seseorang..?? Apakah se-tragis inikah kisah cintaku..?? Smoga waktu bisa menjawab semuanya.
- Fourth day in malang ditulis kembali pada tanggal 16 Januari 2008, 15:21 BBWI. Sampai hari ini, mungkin sudah hampir lebih dari sebulan aku tidak menelepon starlight (baca: Ratih). Sedih aja sih kenapa semuanya harus seperti ini. Namun dinikmati saja lah. Oh iya bapak ku sekarang lagi dirumah sakit. Ini hari ke 5 beliau berada di rumah sakit. Doakan agar sembuh yah.. (Semoga kau tau hal ini dek ratih..)
Monday, October 29, 2007
Third Day in Malang - Senin, 22 Oktober 2007
Hmm.. Hari ketiga di Malang, at last hari ketiga ini gak terasa. Besok gue udah harus balik ke Jakarta. Gue mengalami banyak sekali kebahagiaan disini. Disini waktu sepertinya berjalan dengan apa adanya. Semua terasa indah.. “Mungkin karna ada yang spesial buat gue di kota ini..”
Di hari ini gue lagi out of idea, gue gak tau hari ini mau kemana. Tapi mungkin gue akan mampir kerumah bude gue yang di narotama dan rumah pak de gue yang berada di daerah Bandulan, malang. Gue menulis hari ketiga ini dengan sedikit malas, karna setelah kejadian dihari kedua. Laptop IBM T60 gue gak mau nyala, tapi setelah gue pulang dari malang, akhirnya pula itu laptop bisa menyala kembali dan tetap berjalan dengan 1,5 GB RAM. Karna technical supportnya sich laptop gue crash memory RAMnya. Tapi ternyata setelah diusahakan akhirnya bisa juga berjalan dengan upgrade RAM.
Kembali ke Malang, gue punya planning mau ke rumah bude gue sekitar jam 12 siang. Trus..truss.. gue keluar dari hotel pelangi sekitar jam segituan tuk menuju ke narotama yang notabene rumah bude gue. Tapi sebelumnya masa gue hanya melenggang kangkung begitu aja tanpa membawa buah tangan kesananya. Akhirnya gue menyempatkan tuk membeli Dunkin Donuts, dengan melewati alun-alun kota Malang tuk menuju ke Ramayana. Di alun-alun ternyata gue melihat banyak sekali banci (ini banci beneran loh, bukannya banci foto kayak gue.) berkeliaran didalam alun-alun. Akhirnya dengan langkah seribu gue mencoba tuk menjauhi mereka, daripada nanti gue diperkosa rame-rame di tengah alun-alun sama itu banci-banci. Bukannya kalo siang itu mereka pada tidur yah.. Jangan-jangan ini banci yang gak laku semalam nich.. Duch kayak gue yang tau banget tentang mereka yach.
Akhirnya lagi, gue menuju ke narotama dengan menggunakan becak, namun kali ini gue gak tega nawarnya karna tukang becaknya agak sedikit tua. Sesampainya di narotama, gue disambut dengan hangat oleh bude-bude gue. Itulah yang gue suka dari Malang, atmosfir kekeluargaan itu sangat tinggi. Sehingga terkadang membuat gue berpikir tuk pindah kesini. Disana gue cukup bercengkrama cukup lama dengan bude-bude gue, trus dari sana gue dijemput pakde gue tuk maen kerumahnya di Bandulan. Oh iya, menurut schedule gue hari ini. Gue akan ketemu sama miss R. Katanya sich dia baru bisa ketemu sekitar jam 7 malam. Sekitaran jam 6 sore gue menelpon miss R tuk menanyakan jadi atau tidak kita ketemu. Dan ternyata dia gak bisa ketemu ama gue hari ini. Yo wis, mungkin dia memang capek dan banyak hal yang lebih penting yang harus dia kerjakan selain hanya untuk bertemu gue.
At last gue tiba-tiba diajakin theris tuk jalan sama dia ke pulosari (tempat makan gitu dech). Sambil membawa tas punggung dan kantong gede berisi oleh-oleh dari bude dan pakde gue. Tapi tetep aja gue pede..
Di pulosari gue makan roti bakar dan jagung bakar. Enak banget dech pokoknya. Kapan-kapan kalo gue ke malang lagi, gue akan balik lagi kesana tuk makan. Oh iya, thanks to Theris yang sudah bersedia baik itu tenaga, waktu dan dirinya untuk rela nemenin gue. Meskipun gue ngerepotin tapi tetep aja dia mau bantuin gue, baik itu nyariin travel buat ke bandara, ngajakin jalan ke pasar minggu gajayana, sama ngajakin gue jalan ke pulosari (karna sebelumnya miss R membatalkan janjinya dengan gue).
Itulah cerita gue hari ini.. Hmm.. Apa kabarnya gue besok yah, semoga pas besok gue pulang, gue akan membawa kenangan yang manis.. Preparing for miss R dech..
Friday, October 26, 2007
Second Day in Malang – Minggu, 21 Oktober 2007 (Part 2)

Meet my love.. Meet my dear.. Miss R..
Gue bikin sub judul disini karna akhirnya gue akan bertemu dengan Ratih, yang merupakan dia adalah tujuan utamaku datang kesini. Gue udah janjian sama dia untuk jalan-jalan hari ini pukul 2 siang (duch kok gaya bahasanya langsung berubah serius gini sich).
Gue udah nunggu dia di hotel mulai jam 11an. Trus malang hari ini agak mendung dan cenderung akan hujan, alhasil pada jam 1 an siang hujan pun turun. Gue tadinya udah agak-agak pesimis, apakah dia bisa datang atau nggak. Akhirnya sekitar jam 2an siang hujan berhenti dan dia bilang mau ketempatku.
Ratih datang dengan temannya Dwi dan pacarnya dwi. Ratih terlihat sangat cantik dan manis, dengan mengenakan baju hard rock merah yang kubelikan untuknya dan celana jeans dan jaket hitam. Dia terlihat sangat cantik, aku tidak akan pernah meminta dia untuk merubah apapun karna buat gue bisa bertemu dengannya merupakan suatu mimpi yang jadi kenyataan dan mungkin juga selama 5 bulan kebelakang saya tidak melihatnya secara langsung sehingga saya agak-agak kangen berat sama doi. Dwi pun akhirnya pulang. Tinggallah kami berdua di hotel. Akhirnya gue ajak dia masuk, disaat itu juga kita (gue dan ratih) bingung mau pergi kemana dan disaat itu pula gue memberikan hadiah yang berupa kotak biru berpita biru pula yang kupersiapkan dari jakarta untuknya yang didalamnya berisi cardigan warna hitam dan gelang-gelang etnik khusus kucari untuknya. Kupilih warna hitam karna dia suka banget sama warna itu dan kupilih gelang etnik karna dia juga suka mengoleksi gelang-gelang. (Tuk teman-temanku yang telah membantu gue mencari barang-barang tersebut diatas, gue sangat-sangat berterima kasih dari lubuk hati gue yang paling dalam).
Setelah Ratih menerima hadiah itu, dia pun terlihat manis ketika tersenyum, gue seneng banget walaupun hanya melihat senyumnya (aku akan berikan apapun untuk bisa melihat senyum itu sekarang, dan waktu itu waktu seperti berhenti sesaat dan semua begitu wah dan keren banget lah). Akhirnya kita rencanakan keluar tuk makan, gue dan dia pun keluar tuk makan bakso bakar deket jalan ijen. Akhirnya gue bisa kencan (mungkin kalimat yang lebih tepat adalah jalan-jalan) berdua saja sama dia..
Setelah dari makan baso bakar dan ngobrol dengannya disana. Kami pun bergegas tuk lihat-lihat rumah kuno yang katanya dia suka banget dengan rumah-rumah kuno. Duch.. udah kayak pasangan yang mau nikah trus lagi nyari rumah untuk ditempatin oleh kami berdua. (Aku akan belikan rumah seperti itu untukmu jika kau mau menikah denganku..)
Sehabis dari ngiter-ngiter liat rumah-rumah kuno akhirnya kita memutuskan untuk ke Matos (Malang Town Square) atau maen ke kostnya dia. Tapi di tengah-tenagh perjalanan akhirnya kita memutuskan untuk ke Batu, hanya untuk sekedar maen-maen aja di Batu. Katanya ratih sich klo dihitung waktu cuma setengah jam aja dari malang ke batu kalo naek motor (kayaknya naeknya gak pake rem dech). Oh iya belum ada setengah jalan menuju batu, hujan turun dengan lebatnya di malang. Akhirnya dengan berat hati kami pun membatalkan untuk menuju kesana.
Dalam perjalanan balik menuju ke kostnya di belakang Universitas Brawijaya, kami pun sempat meneduh di depan suatu ruko apotik dan duduk disana. Sebenarnya dalam hati ku pun, sangat berharap turun hujan, biar gue punya kesempatan untuk ngobrol berdua atau menghabiskan waktu berdua aja tanpa harus membicarakan sesuatu yang berat-berat.
Dan pada akhirnya pula gue dapatkan momen itu ketika kami berteduh. Aku duduk disampingnya, dengan baju merahnya dia masih terlihat sangat cantik meskipun agak basah-basahan. Akhirnya gue bisa menatap wajahnya dengan sangat lama dan hanya berjarak beberapa centi meter aja. Gue bisa melihat dengan sangat dekat orang yang gue cintai. Orang yang gue harapkan bisa mengisi hari gue yang indah menjadi lebih indah lagi. Selain ngobrol, gue pun menyempatkan untuk memfoto dan merekamnya. Kami pun saling mendengarkan dan saling berbagi mp3 lewat handphone ku. Headphonenya yang satu dikuping kiriku yang satunya lagi dikuping kirinya. Hari ini gue seneng banget, ternyata hal seperti ini yang udah lama gak gue rasakan. Yaitu senang tuk berada disamping orang yang kita kasihi dan sayangi. Hujan hari ini agak lama berhentinya. Alhasil kami tetap stuck in that moment. Dalam hati gue terus berucap betapa gue seneng banget bisa berada dengan sangat dekat bersamanya dan andai ia tahu betapa gue sangat mencintainya dan betapa gue ingin sekali tuk memilikinya, sehingga jarak jakarta – malang pun akan kulalui dan tak kurasakan betapa lelahnya diriku..
Setelah hujan reda, kamipun melanjutkan perjalanan menuju kostnya. Disana gue bertemu dengan saudaranya Ratih yang namanya Utus. Sambil ngobrol bertigaan pun gue sempetin tuk memfoto Ratih. Karna tiba-tiba aja dia memakai cardigan yang gue kasih buat dia hari itu. Dia masih saja terlihat sangat cantik dengan cardigan yang gue beli buat dia. Di kostnya pula gue ketemu dengan Dek Adit dan kakaknya (tetangga Henik di Mojokerto). Pulang dari kostnya Ratih, kamipun nmenyempatkan untuk sholat maghrib dulu di Masjid Jami deket hotel tempatku menginap. Oh iya momen yang gak kulupakan adalah ketika selesai sholat, Ratih menunggu di gerbang untukku selesai sholat dan memakai sepatu. Buat gue, hari ini very very funtastic, klo bisa gue ingin mengulanginya setiap hari. Agar gue sadar bahwa gue sangat mencintai dan menyayanginya dan gue gak akan sampai hati melihat orang yang kucintai dan kusayangi bersedih. Akan kuberikan apapun untuk melihat senyum itu kembali merekah di mukanya. Itulah sedalam-dalamnya cintaku padamu Ratih..
Akhirnya di hotel tempatku menginap kami berpisah, dia masih ada tugas yang harus dikerjakan dan gue ada kehidupan yang harus gue jalanin. Gue pada malam kedua disana tetep aja makan malam di Mc. Donalds depan Toko Oen’s. Sambil makan, gue tetep aja tersenyum-tersenyum gila, gue masih aja tersenyum mengingat kejadian tadi siang. Tapi entah mengapa ada perasaan takut dalam diri gue, gue takut kebahagiaan ini hanya berlangsung sebentar dan entah mengapa pula Ratih sepertinya tidak memiliki ketertarikan yang sama seperti gue. Entah apa gue bisa menerimanya bila nanti kejadiannya seperti itu. Tapi malam ini gue akan tetap menikmati indahnya momen bersama Ratih tadi siang. Teruntukmu Ratih, aku mencintaimu dengan apa adanya dirimu dan jangan kau rubah dirimu, karna kumencintaimu yang seperti ini yang apa adanya, tidak lebih dan tidak kurang.
Second Day in Malang – Minggu, 21 Oktober 2007 (Part 1)
Ngantukk..dan kurang tidur itu yang gue rasakan hari ini. Karna semalam gue abis menelpon beberapa teman gue disini (cewe-cewe semuanya lho.. Ada yang berminat..??). Malam pertama gue di hotel diliputi sedikit cerita menakutkan nich, tadi shubuh gue mimpi buruk, sial.. Jangan-jangan gue dikerjain sama penunggu di hotel nich. Oh iya rencananya untuk hari ini adalah gue mau mengunjungi dan menginspeksi secara mendadak pasar minggu Gajayana (udah kayak petugas kelurahan trus bawa Kamtib untuk ngebongkar lapak-lapak dagangan aja).
Dari obrolan gue dengan riri, theris dan yeny. Sepertinya hari ini gue tetep bakalan untuk mengunjungi pasar pagi yang buka hanya pada hari minggu yang katanya juga udah pindah ke daerah jalan ijen, yang katanya juga dulu itu pasar berada di belakang stadion Gajayana. Mungkin karna proyek mall yang semakin banyak, jadinya itu pasar sampai ikut kegusur (mari kita berdoa dan merenung.. Loh kok udah kayak tulisan bener aja nich gue..).
Trus dari telpon dari tadi malam gue akhirnya akan dijemput theris jam 6 pagi. Yang secara gitu.. si banci foto bernama siluet sapi manis ini sulit banget untuk bangun pagi.. Tapi akhirnya dengan niat yang kuat dan iman yang kuat pula, akhirnya gue bangun jam 5 pagi dan itu pula rekor gue selama ini dimana udah bangun jam segitu trus gue mandi pula.. Secara khan gue kayak kucing gitu yang takut sama air untuk mandi. Trus..truss.. Si theris datang ke hotel pelangi tempat gue nginep sekitar jam 6an pagi. Setelah sebelumnya pada jam 5 pagi gue di kasih sms yang sedikit aneh isinya, yaitu “Komandan.. Bangun..”. Lah emang gue mau upacara pagi bareng sama prajurit yach atau gue mau jadi banci pasar yang pagi-pagi udah di grebek petugas.
Oh iya setelah theris nyampe sini dan kita akhirnya mau berangkat kesana. Ada kelucuan yang mulai bermula dari sini. Pas kita mau nyari angkot menuju pasar pagi, itu ternyata susah banget yach nyari angkot dipagi hari dan hari minggu pula. Akhirnya dengan berat hati kita naek ADL yang melewati pasar besar dan agak sedikit muter-muter dulu entah kedaerah mana dulu, oh iya kita itu naek dengan terlebih dahulu bertanya apakah akan melewati pasar pagi gajayana. Nyampenya gue di pasar itu, gue sempet terperangah dengan daerah di sekitar pasar itu yang ternyata belakangan itu gue baru tau bahwa itu termasuk komplek ijen. Yaitu tempat orang-orang elit di malang yang klo di jakarta itu bernama menteng dan daerah pondok indah yang rencananya mau dilewati busway itu logh.
Dengan gegap gempita dan riang gembira, gue akhirnya sangat antusias sekali jalan-jalan di orchard roadnya versi malang. Yah bedanya tipis lah antara orchard roadnya singapura dengan pasar minggu di malang. Kalo di singapura terlebih di orchard road itu orang yang lewat itu keren-keren, di malang juga gak kalah kerennya cuma disini orangnya agak kusut (belum di setrika kalee..) aja karna mungkin belum mandi udah jalan-jalan keluar rumah dengan bau badan yang apa adanya, serta pakaian yang cukup apa adanya pula.. hahaha...
Oh iya akhirnya gue sarapan dulu disana dengan si theris sambil menunggu yeny datang, oh iya gue makan sarapan disana dengan menu yang sedikit serakah. Gue makan nasi putih dengan lauk urap-urap plus ayam goreng plus paru goreng plus kerupuk plus teh manis hangat.. (gue kelaparan apa doyan tuch..!!) Hmm.. Pokoknya Mak Nyuss dech.. (Inspired by Pak Bondan) Kepingin yach.. Makanya dateng lah ke malang.. (meskipun banyak pula pengemis dan pengamen yang wora-wiri bergantian datang..)
Setelah gue makan, thawaf alias ngiter-ngiternya pun dilanjutkan. Dan akhirnya pula si yeny datang dan mulailah dia dengan pencarian pernak-pernik ke ceweannya dia dan gue dengan kebingungan gue sendiri. Gimana gak aneh coba, mereka mencari barang-barang yang normal untuk manusia pada umumnya eh gue malah liatin orang-orang pada mijit di pinggiran (dalam hati gue bertanya : “ini orang segini banyak mau mijit atau jumpa fans sich atau jangan jangan mereka ini ketipu semua sama tukang pijit..”) hahahaha... Trus gue juga dengan bingungnya melihat orang-orang yang lagi jualan bunga (wah klo ampe emak gue tau, bisa-bisa gue disuruh beli untuk dibawa ke jakarta nich..), trus gue ngeliatin kaos kaki cuma seharga 2000 (ini kayaknya udah kayak kondom dech, alias sekali pake..), trus gue juga ngeliatin orang beli kalender (abisnya orang yang jualannya juga bingung ditanyain sama pembelinya).
Kegilaan gue semakin bertambah ketika kita (gue, yeny dan theris) mau nganterin theris pulang lewat jalan ijen.
Pertama, gue melihat ada becak disana dengan tukang becak didalamnya sedang bengong-bengong gak jelas. Akhirnya gue bilang sama mereka.. “eh kita foto-foto yukk, tapi fotonya di becak, ntar kita jadi tukang becaknya dan si tukang becak jadi penumpangnya..” trus temen gue dengan sinisnya mulai merasa mereka jalan dengan orang gila nich. Hahaha...
Kedua, gue ngeliat ada tukang minta-minta lagi duduk, entah dia lagi nyanyi jawa atau lagi minta-minta karna gue gak ngerti bahasanya doi. Nah kegilaan berikutnya gue ngomong lagi sama mereka. “Eh ntar fotoin gue yukk sama tukang minta-minta itu ntar gue merangkul dia trus sambil telapak tangan keatas sambil minta-minta dan tersenyum..” hahhaaha.. Paraah emang nich gue.. Jadi tukang minta-minta kok jadi cita-cita.. paraaaaahhh si siluet sapi..
Ketiga, gue liat patroli polisi lengkap dengan mobil patrolinya disana, gak ada yang aneh sich. Tapi gue langsung ngomong lagi sama mereka.. “eh fotoin gue yach sama pak polisi nanti gue akan berada di tengah-tengah mereka dengan background mobil polisi dan jalan ijen..” Duch ntar gue disangka napi atau jangan-jangan orang akan mengira inilah dia calon walikota malang berikutnya. Hahahaha..
Keempat, untuk kegilaan gue yang terakhir ini, gue ngeliat ada patung bernama patung TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar Jawa Timur).. Trus gue nanya sama temen-temen gue.. “eh boleh gak yach gue foto di patung itu..??” Dan dengan lugas dan tegasnya mereka bilang.. “Ya boleh lah..” Tapi gue langsung jawab.. “Tapi fotonya naek kepatungnya lho..!!”. Dan dengan pandangan sinis yang sama, mereka pun sepertinya sudah melihat tulisan di jidat gue yang tertulis “Awas, belum sembuh..!?!?” Oh iya gue sedikit norak liat itu patung karna warnanya kalo gak salah agak keemasan. Lucu juga kali yah patungnya pak Sudirman di warnai jadi kuning, ntar khan disangkanya emas.. he..he.. (maaf pak Sudirman..)
Pulang dari pasar minggu, akhirnya gue balik ke hotel lagi dengan yeny yang mengantarkan dengan terlebih dahulu kita nganterin theris pulang. Dan gue sarapan lagi dengan bubur ayam bersama dengan yeny dan makan cilok di pinggiran jalan ijen. Udeh kayak nyonye dan tuan di gedongan.. (red : Benyamin S. song)
First Day in Malang - Sabtu, 20 Oktober 2007
Huihh.. Capek dan lelah namun mengasyikan, itu merupakan kata pertama yang bisa gue ucapkan ketika si siluet sapi ini melangkahkan kakinya di stasiun Malang. Setelah sehari semalaman gue berada digerbong kereta api bernama Gajayana dan disebelah gue ibu-ibu 3 orang bersaudara yang terus-menerus menekan dan mengintervensi serta menggoda gue dengan mempromosikan anak-anak wanitanya sama gue disepanjang perjalanan dari mulai stasiun Gambir Jakarta sampai dengan stasiun Malang. Panjang yach penderitaan gue.. Tapi dengan iman seadanya dan imron se luar biasanya, akhirnya gue kuat untuk menahan godaan untuk tidak jadi banci mupeng sama anak-anak mereka (secara gitu logh, salah satu anak mereka ada yang cantik). But, that is a great experience with a new person in a train.
Oh iya gue belum bilang. Ini merupakan perjalanan ternekat gue ke kota Malang (percaya gak loe ??). Karna, secara yach.. Gue itu gak pernah sendirian kalo ke Malang. Semua hanya untuk R***h.. Andai ia tahu..!!
Cerita ini bermula dari gue mulai menelpon Dina yang katanya mau jemput gue di stasiun, eh ternyata dia lagi dengan indahnya masih berada di Mojokerto, dengan tidak bersalahnya dia masih belum berangkat juga dari sana. Parah emang tuch temen gue yang satu itu, tapi itulah Dina, klo gak gitu bukan Dina namanya. Trus singkat cerita abis gue telpon Dina, akhirnya kuberanikan diri untuk menuju ke Hotel Pelangi, dengan menggunakan becak sebagai alternatif pertama kendaraan tuk menuju ke hotel. Berikut kutipan obrolan aneh gue dengan si tukang becak :
Gue : Pak Becaknya Pak.. *Macam gue aja yang punya perusahaan becak di Malang.*
Tukang Becak : Oh iya Pak, Monggo Pak Monggo..
Gue : Hotel Pelangi deket alun-alun pak..
Tukang Becak : Oh iya, gampang pak.. Silahkan Pak.. *Gampang..!! emangnya maen gundu.*
Gue : Iya gampang pak tapi brapa Pak?? “dengan nada kesel gue nanya”
Tukang Becak : Penglaris Pak, mumpung lebaran..
Gue : Iya tapi berapa pak..?? “Gak lucu khan klo tiba-tiba disuruh bayar lima puluh ribu..”
Tukang Becak : Ya dua puluh ribu aja pak..
Singkat cerita akhirnya setelah gue berjibaku sambil mengeluarkan bau badan serta keringat yang menempel dibadan akhirnya nominal yang disetujui adalah Rp. 12000, itupun setelah gue mencoba menawar seperti banci kaleng dikejar kamtib trus ketemu tukang becak badrun. He..he..
Setelah sampai di Hotel Pelangi deket alun-alun kota malang dan check in, disinilah masalah baru muncul, katanya si Receptionist gue check in terlalu pagi dan alhasil kamarnya masih banyak yang lagi dibersihkan (capek dech..!!), tapi setelah itu akhirnya gue mendapatkan kamar juga klo gak salah nomornya itu 212 (nomor kamar Wiro Sableng untuk tempat nginep orang Sableng). Trus masalah kedua dateng, karna gue mau mandi dan secara gitu logh, handuknya gak ada. Akhirnya setelah hampir menunggu 2 jam akhirnya ada juga yang mengantarkan handuknya. Masalah pertama selesai, kemudian masalah kedua datang, si Dina setelah hampir 3 jam gue mengacangi diri gue sendiri di hotel belum juga menunjukkan batang hidung atau belahan dadanya (gunung kelud kalee..).
Tapi pada akhirnya si Dina datang juga dan ternyata dia datang bersama Ririn (my friend too in previous story). Kemudian kita segera keluar dari hotel untuk makan di didepan stasiun yang disebut dengan nama warna warni (kayak nama acara teve jaman dulu). Lumayan kenyang dan enak karna gue juga harus minum obat. Keluar dari sana kita bingung mau kemana lagi, akhirnya gue putuskan untuk mencari buah tangan berupa keripik yang notabene ada di daerah sanan. Dari depan stasiun kami naek angkot AMG menuju sanan (setelah sebelumnya gue bercanda-bercanda dengan gilanya di pinggir jalan didepan warna-warni, noraks yach..) dan gue sempet memborong satu kardus keripik untuk teman-temanku tercinta.. Duch baeknya diriku.. he..he..
Habis dari sanan dan warni warni, kami kembali lagi ke hotel untuk naruh barang-barang dulu tuk kemudian kami jalan-jalan lagi ke Toko Oen’s untuk membeli es krim dan Teh Botol sosro (makan ati sich). Oh iya ini bagian terserunya, pada saat selesai makan di warna warni, otak gue yang dipenuhi dengan ide gila ini mau mengajak temen-temen gue tuk foto di warna warni, tapi sayang akal sehat mereka masih mengalahkan akal gile gue. Trus ketika sekembalinya dari daerah produksi kripik di Sanan, gue punya pikiran gila lagi tuk foto-foto di pinggiran jalan sambil nunggu angkot yang notabene waktu itu rame banget orang. Tapi akhirnya dengan kegilaan yang makin memuncak akhirnya kami foto-foto di dalam angkot (Ampuunn DJ.. Banci Foto ya Boo...). Trus akhirnya mereka kembali pulang ke mojokerto dan gue sendirian lagi di hotel, malem harinya gue makan di Mc D. Dan rencananya besok gue mau ketemu R***h. Mudah-mudahan semuanya dapat berjalan dengan lancar. Hopefully.. (tetap semangat dan optimis untuk mendapatkannya..).
NB : Seragam kita waktu itu dipenuhi dengan atasan warna hitam.. (Secara yach gue pake kaos item, Dina pake cardigans hitam dan begitu pula ririn. Udah kayak Trio Kwek-Kwek mau tampil di acara pemakaman).
Kayaknya cardigan merupakan hal yang masih cukup baru bagi mereka. Wekss.. Kaburrr.. Piss yo... Noraks yach..!!
Awas ada Banci Shopping tertangkap kamera didalam angkot.. Dan awas ada 2 orang tidak dewasa maen ayunan anak-anak.. hahahaha...
Friday, August 17, 2007
Kebayoran Baru Kota Taman Pertama Karya Arsitek Lokal
Oleh Nirwono Joga, arsitek lanskap
ADOLF Heuken dan Grace Pamungkas (2001) menulis, kawasan Menteng di Jakarta Pusat merupakan kota taman pertama di Indonesia, tentunya yang dirancang para arsitek Belanda. Namun, banyak warga Jakarta yang belum tahu bahwa Kebayoran Baru di Jakarta Selatan adalah kota taman pertama di Indonesia yang dirancang arsitek lokal, Moh. Soesilo (1948).
SUNGGUH mengherankan dan naif membaca usulan rencana sebagian pengusaha yang disampaikan (didukung) Pemerintah Kota Jakarta Selatan untuk mengubah fungsi peruntukan Kebayoran Baru dari kawasan perumahan menjadi kawasan usaha (Kompas, 10/6).
Padahal, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta Nomor D.IV-6099/33/ 1975, kawasan Kebayoran Baru ditetapkan sebagai Kawasan Pemugaran. Bahkan, Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Jakarta 2000-2010 telah menetapkan sebagian besar kawasan Kebayoran Baru sebagai Kawasan Perumahan/Hunian. Maka, Kebayoran Baru seharusnya dilindungi dan dilestarikan sebagai contoh warisan budaya kota taman pertama di Indonesia. Bukan malah digadaikan.
Menilik dari sejarah perkembangan Kota Jakarta, aset dan potensi Kebayoran Baru memang layak dikategorikan sebagai kawasan cagar budaya. Hal ini diperkuat oleh Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Pada Pasal 1 (1) disebutkan, benda cagar budaya adalah benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak yang berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.
Dengan demikian, kota taman Kebayoran Baru yang telah berusia lebih dari 50 tahun dapat dikategorikan sebagai kawasan cagar budaya yang patut dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan secara hati-hati, seperti yang sudah diatur dalam Perda No 11/1988 tentang Ketertiban Umum di wilayah DKI Jakarta, Perda No 6/1999 tentang RTRW Jakarta 2000-2010, serta Perda No 9/1999 tentang Perlindungan dan Pemanfaatan Lingkungan Kawasan Benda Cagar Budaya.
Artinya, segala macam kegiatan preservasi, konservasi, restorasi, rehabilitasi, rekonstruksi, renovasi, dan atau revitalisasi dalam kawasan Kebayoran Baru, apalagi untuk kegiatan komersial, harus didahului kajian analisis dampak lingkungan dan sosial, serta studi kelayakan konservasi dan pengembangan kota, yang mendalam dan independen.
Bagi pemerintah daerah, seperti Dinas Tata Kota, Dinas Pertamanan, Dinas Pertanian dan Kehutanan, Dinas Pariwisata, Dinas Museum dan Pemugaran, Dinas Kebudayaan, dan Kantor Pelayanan Pemakaman, serta anggota DPRD, sudah selayaknya menjadikan Kebayoran Baru sebagai laboratorium hidup bahan kajian studi banding gratis degradasi dan pengelolaan kota taman. Dengan demikian tidak perlu studi banding ke luar negeri, seperti ke Singapura, Kuala Lumpur, Melbourne, London, atau New York, yang tidak pernah jelas hasil dan laporannya.
Kebayoran Baru merupakan adaptasi kota taman bergaya Eropa (Belanda) dalam iklim tropis sehingga sering disebut sebagai kota taman tropis yang banyak dikembangkan oleh Thomas Karsten di beberapa kota di Jawa (Bogor, Bandung, Malang) dan luar Jawa, di mana arsitek Moh. Soesilo adalah salah satu muridnya.
Kebayoran Baru memiliki konsistensi hierarki jalan dan peruntukan lahan yang jelas, mulai dari Blok A hingga Blok S. Sebagai kota taman, Kebayoran Baru dirancang didominasi ruang terbuka hijau (RTH) lebih dari 30 persen dari total luas kota Kebayoran Baru 720 hektar. Suatu hal yang kini sulit diwujudkan oleh Kota Jakarta sekarang maupun dalam perencanaan kota di Indonesia.
Taman kota (Taman Puring, Taman Patung Tumbuh Kembang, Taman Langsat, Taman Leuser, Taman Barito, Taman Christina Marta-Tiahahu, Taman PKK), taman pemakaman umum (TPU Blok P yang sudah digusur, TPU Kramat Pela), lapangan olahraga (Blok S yang bersejarah, Al Azhar), jalur hijau jalan raya, dan bantaran sungai saling menyatu dengan didominasi deretan pohon besar berusia puluhan tahun berdiameter lebih dari 50 sentimeter yang harus dilindungi.
Kebayoran Baru dikelilingi oleh sabuk hijau bantaran Kali Grogol di Barat dan Kali Krukut di timur, serta kompleks Gelora Bung Karno di utara. Fasilitas ruang publik dengan konsep taman-taman penghubung (connector park), seperti yang biasa ditemukan pada kota-kota taman di Singapura, Melbourne, atau London, disediakan dalam bentuk taman kota dan taman lingkungan yang tersebar sistematis, terencana, dan saling berhubungan tak terputus disesuaikan dengan peruntukan hunian.
Pemerintah daerah seharusnya dapat belajar di sini untuk diterapkan dalam pembangunan taman interaktif di perkampungan kumuh dan padat penduduk dan pengembangan RTH kota secara keseluruhan.
Kebayoran Baru juga masih memiliki cadangan RTH cukup luas yang merupakan halaman hijau bangunan, seperti di Hotel Dharmawangsa yang eksotik, American Club, Kantor Kejaksaan Agung RI, SMA 70 Bulungan, Kompleks Yayasan Al Azhar, Kantor Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, serta Mabes Polri.
Namun, jika tidak ada upaya negosiasi dengan pengelola lahan melalui pola kemitraan hijau, cadangan RTH tersebut dapat saja digusur setiap saat digantikan bangunan instansi pemilik lahan. Ironisnya, penggusuran RTH tampaknya akan terus berlanjut tanpa terkendali dan sanksi tegas, seperti pengurukan situ menjadi golf drive range, dan penggusuran TPU Blok P menjadi Kantor Wali Kota Jakarta Selatan (1997).
Perubahan peruntukan lahan diperparah dengan perubahan fungsi bangunan rumah menjadi tempat usaha secara tak terkendali dan telah merusak pembagian kapling (blok-blok) Blok A sampai Blok S, dan arsitektur bangunan khas, yang telah direncanakan sebelumnya. Bangunan-bangunan baru tumbuh menggusur bangunan lama dengan arsitektur yang tidak selaras dengan bangunan lama di sekitarnya.
KEBAYORAN Baru memiliki kekayaan warisan budaya arsitektur bangunan yang sederhana, modern, dan tropis yang semestinya harus dilindungi. Berbagai tipe bangunan hunian dengan berbagai ukuran dan gaya berbeda melatarbelakangi sejarah panjang kota taman ini.
Konservasi tipe-tipe bangunan bersejarah seperti rumah besar di Jl Sriwijaya, Jl Adityawarman, Jl Galuh, Jl Kertanegara, Jl Daksa, Jl Erlangga, Jl Pulokambeng (Blok J dan L); rumah sedang (300-500 meter persegi) di Jl Lamandau dan Jl Mendawai (Blok D); rumah kecil berdiri tunggal maupun gandeng dua (200 meter persegi) di Jl Kerinci (Blok E) dan di Jl Gandaria (Blok C), rumah jengki di Jl Sinabung yang dirancang Moh Soesilo, arsitek kota Kebayoran Baru; rumah deret mungil dan cantik di Jl Brawijaya; serta gedung dan flat Bank Indonesia di Blok J, dan flat Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian di Jl Wijaya yang termasuk gedung modern pada zamannya.
Selain itu masih ada Masjid Al Azhar, Masjid At Taqwa, Gereja Santa Perawan Maria, Gereja Pantekosta, Gereja Santo Yohanes, serta tak ketinggalan kediaman (alm) Ibu Fatmawati di Jl Sriwijaya 26 yang sangat bersejarah.
Kebayoran Baru juga sudah merencanakan pusat-pusat perniagaan, seperti Pasar (tradisional) Santa, Pasar Blok A dengan menara airnya yang menjadi landmark, Pasar Mayestik, dan Blok M, serta kios-kios bunga, buah, dan burung yang berada di sekitar Jl Barito, yang masih dapat dikembangkan lebih optimal ketimbang mengubah kawasan perumahan secara keseluruhan menjadi kawasan usaha.
Sudah bukan rahasia umum pula jika lokasi-lokasi RTH strategis, seperti Taman Langsat, Taman Leuser, dan Taman Barito, telah lama diincar para pengusaha untuk bangunan komersial (mal, apartemen, atau hotel). Sementara di sepanjang jalan utama telah banyak rumah yang berubah menjadi kantor, toko, kafe, galeri, atau tempat usaha lainnya. Jika tak segera diambil langkah pengendalian yang tegas, bisa dipastikan kota taman Kebayoran Baru akan hancur berubah menjadi kawasan lain yang semrawut dan tidak beridentitas lagi.
Penyusunan pedoman konservasi dan pengembangan kota dapat ditempuh melalui pendekatan dari bawah, dengan mengakomodasi karakteristik masing-masing kapling sesuai dengan permasalahan yang dihadapi, potensi yang dimiliki, dan prospeknya terhadap peningkatan kualitas kota taman.
Dengan semangat kemitraan, hasil perencanaan sebagai alat komunikasi yang informatif antara pemerintah daerah dan pengusaha didampingi konsultan yang berwawasan lingkungan dan konservasi kota (sebagai pemrakarsa) dengan warga pemilik kapling (stakeholders), tokoh masyarakat, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat.
Hasilnya adalah pemahaman bersama untuk mewujudkan pengembangan kota yang realistis untuk dibangun tanpa harus mengorbankan kualitas kota taman.
Komitmen dan konsistensi pelaksanaan pembangunan fisik kota harus diimbangi dengan konservasi RTH secara ketat dan disiplin dalam menata ruang kota, serta pengendalian fungsi bangunan rumah. Tidak semua lahan harus dipenuhi bangunan gedung perkantoran, ruko, mal, hotel, atau apartemen, dan tidak semua rumah harus dijadikan tempat usaha.
Kebayoran Baru sebagai kota taman merupakan aset, potensi, dan investasi RTH Kota Jakarta yang memiliki nilai ekologi, ekonomi, edukatif, dan estetis, yang notabene menjamin keberlanjutan lingkungan hidup kota dengan konsisten untuk kemudian menjadikan kota sebagai pusat perdagangan jasa dan tujuan wisata.
Sumber: Harian Kompas, Jumat, 06 Agustus 2004



