Huihh.. Capek dan lelah namun mengasyikan, itu merupakan kata pertama yang bisa gue ucapkan ketika si siluet sapi ini melangkahkan kakinya di stasiun Malang. Setelah sehari semalaman gue berada digerbong kereta api bernama Gajayana dan disebelah gue ibu-ibu 3 orang bersaudara yang terus-menerus menekan dan mengintervensi serta menggoda gue dengan mempromosikan anak-anak wanitanya sama gue disepanjang perjalanan dari mulai stasiun Gambir Jakarta sampai dengan stasiun Malang. Panjang yach penderitaan gue.. Tapi dengan iman seadanya dan imron se luar biasanya, akhirnya gue kuat untuk menahan godaan untuk tidak jadi banci mupeng sama anak-anak mereka (secara gitu logh, salah satu anak mereka ada yang cantik). But, that is a great experience with a new person in a train.
Oh iya gue belum bilang. Ini merupakan perjalanan ternekat gue ke kota Malang (percaya gak loe ??). Karna, secara yach.. Gue itu gak pernah sendirian kalo ke Malang. Semua hanya untuk R***h.. Andai ia tahu..!!
Cerita ini bermula dari gue mulai menelpon Dina yang katanya mau jemput gue di stasiun, eh ternyata dia lagi dengan indahnya masih berada di Mojokerto, dengan tidak bersalahnya dia masih belum berangkat juga dari sana. Parah emang tuch temen gue yang satu itu, tapi itulah Dina, klo gak gitu bukan Dina namanya. Trus singkat cerita abis gue telpon Dina, akhirnya kuberanikan diri untuk menuju ke Hotel Pelangi, dengan menggunakan becak sebagai alternatif pertama kendaraan tuk menuju ke hotel. Berikut kutipan obrolan aneh gue dengan si tukang becak :
Gue : Pak Becaknya Pak.. *Macam gue aja yang punya perusahaan becak di Malang.*
Tukang Becak : Oh iya Pak, Monggo Pak Monggo..
Gue : Hotel Pelangi deket alun-alun pak..
Tukang Becak : Oh iya, gampang pak.. Silahkan Pak.. *Gampang..!! emangnya maen gundu.*
Gue : Iya gampang pak tapi brapa Pak?? “dengan nada kesel gue nanya”
Tukang Becak : Penglaris Pak, mumpung lebaran..
Gue : Iya tapi berapa pak..?? “Gak lucu khan klo tiba-tiba disuruh bayar lima puluh ribu..”
Tukang Becak : Ya dua puluh ribu aja pak..
Singkat cerita akhirnya setelah gue berjibaku sambil mengeluarkan bau badan serta keringat yang menempel dibadan akhirnya nominal yang disetujui adalah Rp. 12000, itupun setelah gue mencoba menawar seperti banci kaleng dikejar kamtib trus ketemu tukang becak badrun. He..he..
Setelah sampai di Hotel Pelangi deket alun-alun kota malang dan check in, disinilah masalah baru muncul, katanya si Receptionist gue check in terlalu pagi dan alhasil kamarnya masih banyak yang lagi dibersihkan (capek dech..!!), tapi setelah itu akhirnya gue mendapatkan kamar juga klo gak salah nomornya itu 212 (nomor kamar Wiro Sableng untuk tempat nginep orang Sableng). Trus masalah kedua dateng, karna gue mau mandi dan secara gitu logh, handuknya gak ada. Akhirnya setelah hampir menunggu 2 jam akhirnya ada juga yang mengantarkan handuknya. Masalah pertama selesai, kemudian masalah kedua datang, si Dina setelah hampir 3 jam gue mengacangi diri gue sendiri di hotel belum juga menunjukkan batang hidung atau belahan dadanya (gunung kelud kalee..).
Tapi pada akhirnya si Dina datang juga dan ternyata dia datang bersama Ririn (my friend too in previous story). Kemudian kita segera keluar dari hotel untuk makan di didepan stasiun yang disebut dengan nama warna warni (kayak nama acara teve jaman dulu). Lumayan kenyang dan enak karna gue juga harus minum obat. Keluar dari sana kita bingung mau kemana lagi, akhirnya gue putuskan untuk mencari buah tangan berupa keripik yang notabene ada di daerah sanan. Dari depan stasiun kami naek angkot AMG menuju sanan (setelah sebelumnya gue bercanda-bercanda dengan gilanya di pinggir jalan didepan warna-warni, noraks yach..) dan gue sempet memborong satu kardus keripik untuk teman-temanku tercinta.. Duch baeknya diriku.. he..he..
Habis dari sanan dan warni warni, kami kembali lagi ke hotel untuk naruh barang-barang dulu tuk kemudian kami jalan-jalan lagi ke Toko Oen’s untuk membeli es krim dan Teh Botol sosro (makan ati sich). Oh iya ini bagian terserunya, pada saat selesai makan di warna warni, otak gue yang dipenuhi dengan ide gila ini mau mengajak temen-temen gue tuk foto di warna warni, tapi sayang akal sehat mereka masih mengalahkan akal gile gue. Trus ketika sekembalinya dari daerah produksi kripik di Sanan, gue punya pikiran gila lagi tuk foto-foto di pinggiran jalan sambil nunggu angkot yang notabene waktu itu rame banget orang. Tapi akhirnya dengan kegilaan yang makin memuncak akhirnya kami foto-foto di dalam angkot (Ampuunn DJ.. Banci Foto ya Boo...). Trus akhirnya mereka kembali pulang ke mojokerto dan gue sendirian lagi di hotel, malem harinya gue makan di Mc D. Dan rencananya besok gue mau ketemu R***h. Mudah-mudahan semuanya dapat berjalan dengan lancar. Hopefully.. (tetap semangat dan optimis untuk mendapatkannya..).
NB : Seragam kita waktu itu dipenuhi dengan atasan warna hitam.. (Secara yach gue pake kaos item, Dina pake cardigans hitam dan begitu pula ririn. Udah kayak Trio Kwek-Kwek mau tampil di acara pemakaman).
Kayaknya cardigan merupakan hal yang masih cukup baru bagi mereka. Wekss.. Kaburrr.. Piss yo... Noraks yach..!!
Awas ada Banci Shopping tertangkap kamera didalam angkot.. Dan awas ada 2 orang tidak dewasa maen ayunan anak-anak.. hahahaha...




No comments:
Post a Comment