Monday, October 29, 2007

Third Day in Malang - Senin, 22 Oktober 2007

Hmm.. Hari ketiga di Malang, at last hari ketiga ini gak terasa. Besok gue udah harus balik ke Jakarta. Gue mengalami banyak sekali kebahagiaan disini. Disini waktu sepertinya berjalan dengan apa adanya. Semua terasa indah.. “Mungkin karna ada yang spesial buat gue di kota ini..”

Di hari ini gue lagi out of idea, gue gak tau hari ini mau kemana. Tapi mungkin gue akan mampir kerumah bude gue yang di narotama dan rumah pak de gue yang berada di daerah Bandulan, malang. Gue menulis hari ketiga ini dengan sedikit malas, karna setelah kejadian dihari kedua. Laptop IBM T60 gue gak mau nyala, tapi setelah gue pulang dari malang, akhirnya pula itu laptop bisa menyala kembali dan tetap berjalan dengan 1,5 GB RAM. Karna technical supportnya sich laptop gue crash memory RAMnya. Tapi ternyata setelah diusahakan akhirnya bisa juga berjalan dengan upgrade RAM.

Kembali ke Malang, gue punya planning mau ke rumah bude gue sekitar jam 12 siang. Trus..truss.. gue keluar dari hotel pelangi sekitar jam segituan tuk menuju ke narotama yang notabene rumah bude gue. Tapi sebelumnya masa gue hanya melenggang kangkung begitu aja tanpa membawa buah tangan kesananya. Akhirnya gue menyempatkan tuk membeli Dunkin Donuts, dengan melewati alun-alun kota Malang tuk menuju ke Ramayana. Di alun-alun ternyata gue melihat banyak sekali banci (ini banci beneran loh, bukannya banci foto kayak gue.) berkeliaran didalam alun-alun. Akhirnya dengan langkah seribu gue mencoba tuk menjauhi mereka, daripada nanti gue diperkosa rame-rame di tengah alun-alun sama itu banci-banci. Bukannya kalo siang itu mereka pada tidur yah.. Jangan-jangan ini banci yang gak laku semalam nich.. Duch kayak gue yang tau banget tentang mereka yach.

Akhirnya lagi, gue menuju ke narotama dengan menggunakan becak, namun kali ini gue gak tega nawarnya karna tukang becaknya agak sedikit tua. Sesampainya di narotama, gue disambut dengan hangat oleh bude-bude gue. Itulah yang gue suka dari Malang, atmosfir kekeluargaan itu sangat tinggi. Sehingga terkadang membuat gue berpikir tuk pindah kesini. Disana gue cukup bercengkrama cukup lama dengan bude-bude gue, trus dari sana gue dijemput pakde gue tuk maen kerumahnya di Bandulan. Oh iya, menurut schedule gue hari ini. Gue akan ketemu sama miss R. Katanya sich dia baru bisa ketemu sekitar jam 7 malam. Sekitaran jam 6 sore gue menelpon miss R tuk menanyakan jadi atau tidak kita ketemu. Dan ternyata dia gak bisa ketemu ama gue hari ini. Yo wis, mungkin dia memang capek dan banyak hal yang lebih penting yang harus dia kerjakan selain hanya untuk bertemu gue.

At last gue tiba-tiba diajakin theris tuk jalan sama dia ke pulosari (tempat makan gitu dech). Sambil membawa tas punggung dan kantong gede berisi oleh-oleh dari bude dan pakde gue. Tapi tetep aja gue pede..

Di pulosari gue makan roti bakar dan jagung bakar. Enak banget dech pokoknya. Kapan-kapan kalo gue ke malang lagi, gue akan balik lagi kesana tuk makan. Oh iya, thanks to Theris yang sudah bersedia baik itu tenaga, waktu dan dirinya untuk rela nemenin gue. Meskipun gue ngerepotin tapi tetep aja dia mau bantuin gue, baik itu nyariin travel buat ke bandara, ngajakin jalan ke pasar minggu gajayana, sama ngajakin gue jalan ke pulosari (karna sebelumnya miss R membatalkan janjinya dengan gue).

Itulah cerita gue hari ini.. Hmm.. Apa kabarnya gue besok yah, semoga pas besok gue pulang, gue akan membawa kenangan yang manis.. Preparing for miss R dech..

Friday, October 26, 2007

Second Day in Malang – Minggu, 21 Oktober 2007 (Part 2)



Meet my love.. Meet my dear.. Miss R..

Gue bikin sub judul disini karna akhirnya gue akan bertemu dengan Ratih, yang merupakan dia adalah tujuan utamaku datang kesini. Gue udah janjian sama dia untuk jalan-jalan hari ini pukul 2 siang (duch kok gaya bahasanya langsung berubah serius gini sich).

Gue udah nunggu dia di hotel mulai jam 11an. Trus malang hari ini agak mendung dan cenderung akan hujan, alhasil pada jam 1 an siang hujan pun turun. Gue tadinya udah agak-agak pesimis, apakah dia bisa datang atau nggak. Akhirnya sekitar jam 2an siang hujan berhenti dan dia bilang mau ketempatku.

Ratih datang dengan temannya Dwi dan pacarnya dwi. Ratih terlihat sangat cantik dan manis, dengan mengenakan baju hard rock merah yang kubelikan untuknya dan celana jeans dan jaket hitam. Dia terlihat sangat cantik, aku tidak akan pernah meminta dia untuk merubah apapun karna buat gue bisa bertemu dengannya merupakan suatu mimpi yang jadi kenyataan dan mungkin juga selama 5 bulan kebelakang saya tidak melihatnya secara langsung sehingga saya agak-agak kangen berat sama doi. Dwi pun akhirnya pulang. Tinggallah kami berdua di hotel. Akhirnya gue ajak dia masuk, disaat itu juga kita (gue dan ratih) bingung mau pergi kemana dan disaat itu pula gue memberikan hadiah yang berupa kotak biru berpita biru pula yang kupersiapkan dari jakarta untuknya yang didalamnya berisi cardigan warna hitam dan gelang-gelang etnik khusus kucari untuknya. Kupilih warna hitam karna dia suka banget sama warna itu dan kupilih gelang etnik karna dia juga suka mengoleksi gelang-gelang. (Tuk teman-temanku yang telah membantu gue mencari barang-barang tersebut diatas, gue sangat-sangat berterima kasih dari lubuk hati gue yang paling dalam).

Setelah Ratih menerima hadiah itu, dia pun terlihat manis ketika tersenyum, gue seneng banget walaupun hanya melihat senyumnya (aku akan berikan apapun untuk bisa melihat senyum itu sekarang, dan waktu itu waktu seperti berhenti sesaat dan semua begitu wah dan keren banget lah). Akhirnya kita rencanakan keluar tuk makan, gue dan dia pun keluar tuk makan bakso bakar deket jalan ijen. Akhirnya gue bisa kencan (mungkin kalimat yang lebih tepat adalah jalan-jalan) berdua saja sama dia..

Setelah dari makan baso bakar dan ngobrol dengannya disana. Kami pun bergegas tuk lihat-lihat rumah kuno yang katanya dia suka banget dengan rumah-rumah kuno. Duch.. udah kayak pasangan yang mau nikah trus lagi nyari rumah untuk ditempatin oleh kami berdua. (Aku akan belikan rumah seperti itu untukmu jika kau mau menikah denganku..)

Sehabis dari ngiter-ngiter liat rumah-rumah kuno akhirnya kita memutuskan untuk ke Matos (Malang Town Square) atau maen ke kostnya dia. Tapi di tengah-tenagh perjalanan akhirnya kita memutuskan untuk ke Batu, hanya untuk sekedar maen-maen aja di Batu. Katanya ratih sich klo dihitung waktu cuma setengah jam aja dari malang ke batu kalo naek motor (kayaknya naeknya gak pake rem dech). Oh iya belum ada setengah jalan menuju batu, hujan turun dengan lebatnya di malang. Akhirnya dengan berat hati kami pun membatalkan untuk menuju kesana.

Dalam perjalanan balik menuju ke kostnya di belakang Universitas Brawijaya, kami pun sempat meneduh di depan suatu ruko apotik dan duduk disana. Sebenarnya dalam hati ku pun, sangat berharap turun hujan, biar gue punya kesempatan untuk ngobrol berdua atau menghabiskan waktu berdua aja tanpa harus membicarakan sesuatu yang berat-berat.

Dan pada akhirnya pula gue dapatkan momen itu ketika kami berteduh. Aku duduk disampingnya, dengan baju merahnya dia masih terlihat sangat cantik meskipun agak basah-basahan. Akhirnya gue bisa menatap wajahnya dengan sangat lama dan hanya berjarak beberapa centi meter aja. Gue bisa melihat dengan sangat dekat orang yang gue cintai. Orang yang gue harapkan bisa mengisi hari gue yang indah menjadi lebih indah lagi. Selain ngobrol, gue pun menyempatkan untuk memfoto dan merekamnya. Kami pun saling mendengarkan dan saling berbagi mp3 lewat handphone ku. Headphonenya yang satu dikuping kiriku yang satunya lagi dikuping kirinya. Hari ini gue seneng banget, ternyata hal seperti ini yang udah lama gak gue rasakan. Yaitu senang tuk berada disamping orang yang kita kasihi dan sayangi. Hujan hari ini agak lama berhentinya. Alhasil kami tetap stuck in that moment. Dalam hati gue terus berucap betapa gue seneng banget bisa berada dengan sangat dekat bersamanya dan andai ia tahu betapa gue sangat mencintainya dan betapa gue ingin sekali tuk memilikinya, sehingga jarak jakarta – malang pun akan kulalui dan tak kurasakan betapa lelahnya diriku..

Setelah hujan reda, kamipun melanjutkan perjalanan menuju kostnya. Disana gue bertemu dengan saudaranya Ratih yang namanya Utus. Sambil ngobrol bertigaan pun gue sempetin tuk memfoto Ratih. Karna tiba-tiba aja dia memakai cardigan yang gue kasih buat dia hari itu. Dia masih saja terlihat sangat cantik dengan cardigan yang gue beli buat dia. Di kostnya pula gue ketemu dengan Dek Adit dan kakaknya (tetangga Henik di Mojokerto). Pulang dari kostnya Ratih, kamipun nmenyempatkan untuk sholat maghrib dulu di Masjid Jami deket hotel tempatku menginap. Oh iya momen yang gak kulupakan adalah ketika selesai sholat, Ratih menunggu di gerbang untukku selesai sholat dan memakai sepatu. Buat gue, hari ini very very funtastic, klo bisa gue ingin mengulanginya setiap hari. Agar gue sadar bahwa gue sangat mencintai dan menyayanginya dan gue gak akan sampai hati melihat orang yang kucintai dan kusayangi bersedih. Akan kuberikan apapun untuk melihat senyum itu kembali merekah di mukanya. Itulah sedalam-dalamnya cintaku padamu Ratih..

Akhirnya di hotel tempatku menginap kami berpisah, dia masih ada tugas yang harus dikerjakan dan gue ada kehidupan yang harus gue jalanin. Gue pada malam kedua disana tetep aja makan malam di Mc. Donalds depan Toko Oen’s. Sambil makan, gue tetep aja tersenyum-tersenyum gila, gue masih aja tersenyum mengingat kejadian tadi siang. Tapi entah mengapa ada perasaan takut dalam diri gue, gue takut kebahagiaan ini hanya berlangsung sebentar dan entah mengapa pula Ratih sepertinya tidak memiliki ketertarikan yang sama seperti gue. Entah apa gue bisa menerimanya bila nanti kejadiannya seperti itu. Tapi malam ini gue akan tetap menikmati indahnya momen bersama Ratih tadi siang. Teruntukmu Ratih, aku mencintaimu dengan apa adanya dirimu dan jangan kau rubah dirimu, karna kumencintaimu yang seperti ini yang apa adanya, tidak lebih dan tidak kurang.

Second Day in Malang – Minggu, 21 Oktober 2007 (Part 1)

Ngantukk..dan kurang tidur itu yang gue rasakan hari ini. Karna semalam gue abis menelpon beberapa teman gue disini (cewe-cewe semuanya lho.. Ada yang berminat..??). Malam pertama gue di hotel diliputi sedikit cerita menakutkan nich, tadi shubuh gue mimpi buruk, sial.. Jangan-jangan gue dikerjain sama penunggu di hotel nich. Oh iya rencananya untuk hari ini adalah gue mau mengunjungi dan menginspeksi secara mendadak pasar minggu Gajayana (udah kayak petugas kelurahan trus bawa Kamtib untuk ngebongkar lapak-lapak dagangan aja).

Dari obrolan gue dengan riri, theris dan yeny. Sepertinya hari ini gue tetep bakalan untuk mengunjungi pasar pagi yang buka hanya pada hari minggu yang katanya juga udah pindah ke daerah jalan ijen, yang katanya juga dulu itu pasar berada di belakang stadion Gajayana. Mungkin karna proyek mall yang semakin banyak, jadinya itu pasar sampai ikut kegusur (mari kita berdoa dan merenung.. Loh kok udah kayak tulisan bener aja nich gue..).

Trus dari telpon dari tadi malam gue akhirnya akan dijemput theris jam 6 pagi. Yang secara gitu.. si banci foto bernama siluet sapi manis ini sulit banget untuk bangun pagi.. Tapi akhirnya dengan niat yang kuat dan iman yang kuat pula, akhirnya gue bangun jam 5 pagi dan itu pula rekor gue selama ini dimana udah bangun jam segitu trus gue mandi pula.. Secara khan gue kayak kucing gitu yang takut sama air untuk mandi. Trus..truss.. Si theris datang ke hotel pelangi tempat gue nginep sekitar jam 6an pagi. Setelah sebelumnya pada jam 5 pagi gue di kasih sms yang sedikit aneh isinya, yaitu “Komandan.. Bangun..”. Lah emang gue mau upacara pagi bareng sama prajurit yach atau gue mau jadi banci pasar yang pagi-pagi udah di grebek petugas.

Oh iya setelah theris nyampe sini dan kita akhirnya mau berangkat kesana. Ada kelucuan yang mulai bermula dari sini. Pas kita mau nyari angkot menuju pasar pagi, itu ternyata susah banget yach nyari angkot dipagi hari dan hari minggu pula. Akhirnya dengan berat hati kita naek ADL yang melewati pasar besar dan agak sedikit muter-muter dulu entah kedaerah mana dulu, oh iya kita itu naek dengan terlebih dahulu bertanya apakah akan melewati pasar pagi gajayana. Nyampenya gue di pasar itu, gue sempet terperangah dengan daerah di sekitar pasar itu yang ternyata belakangan itu gue baru tau bahwa itu termasuk komplek ijen. Yaitu tempat orang-orang elit di malang yang klo di jakarta itu bernama menteng dan daerah pondok indah yang rencananya mau dilewati busway itu logh.

Dengan gegap gempita dan riang gembira, gue akhirnya sangat antusias sekali jalan-jalan di orchard roadnya versi malang. Yah bedanya tipis lah antara orchard roadnya singapura dengan pasar minggu di malang. Kalo di singapura terlebih di orchard road itu orang yang lewat itu keren-keren, di malang juga gak kalah kerennya cuma disini orangnya agak kusut (belum di setrika kalee..) aja karna mungkin belum mandi udah jalan-jalan keluar rumah dengan bau badan yang apa adanya, serta pakaian yang cukup apa adanya pula.. hahaha...

Oh iya akhirnya gue sarapan dulu disana dengan si theris sambil menunggu yeny datang, oh iya gue makan sarapan disana dengan menu yang sedikit serakah. Gue makan nasi putih dengan lauk urap-urap plus ayam goreng plus paru goreng plus kerupuk plus teh manis hangat.. (gue kelaparan apa doyan tuch..!!) Hmm.. Pokoknya Mak Nyuss dech.. (Inspired by Pak Bondan) Kepingin yach.. Makanya dateng lah ke malang.. (meskipun banyak pula pengemis dan pengamen yang wora-wiri bergantian datang..)

Setelah gue makan, thawaf alias ngiter-ngiternya pun dilanjutkan. Dan akhirnya pula si yeny datang dan mulailah dia dengan pencarian pernak-pernik ke ceweannya dia dan gue dengan kebingungan gue sendiri. Gimana gak aneh coba, mereka mencari barang-barang yang normal untuk manusia pada umumnya eh gue malah liatin orang-orang pada mijit di pinggiran (dalam hati gue bertanya : “ini orang segini banyak mau mijit atau jumpa fans sich atau jangan jangan mereka ini ketipu semua sama tukang pijit..”) hahahaha... Trus gue juga dengan bingungnya melihat orang-orang yang lagi jualan bunga (wah klo ampe emak gue tau, bisa-bisa gue disuruh beli untuk dibawa ke jakarta nich..), trus gue ngeliatin kaos kaki cuma seharga 2000 (ini kayaknya udah kayak kondom dech, alias sekali pake..), trus gue juga ngeliatin orang beli kalender (abisnya orang yang jualannya juga bingung ditanyain sama pembelinya).

Kegilaan gue semakin bertambah ketika kita (gue, yeny dan theris) mau nganterin theris pulang lewat jalan ijen.

Pertama, gue melihat ada becak disana dengan tukang becak didalamnya sedang bengong-bengong gak jelas. Akhirnya gue bilang sama mereka.. “eh kita foto-foto yukk, tapi fotonya di becak, ntar kita jadi tukang becaknya dan si tukang becak jadi penumpangnya..” trus temen gue dengan sinisnya mulai merasa mereka jalan dengan orang gila nich. Hahaha...

Kedua, gue ngeliat ada tukang minta-minta lagi duduk, entah dia lagi nyanyi jawa atau lagi minta-minta karna gue gak ngerti bahasanya doi. Nah kegilaan berikutnya gue ngomong lagi sama mereka. “Eh ntar fotoin gue yukk sama tukang minta-minta itu ntar gue merangkul dia trus sambil telapak tangan keatas sambil minta-minta dan tersenyum..” hahhaaha.. Paraah emang nich gue.. Jadi tukang minta-minta kok jadi cita-cita.. paraaaaahhh si siluet sapi..

Ketiga, gue liat patroli polisi lengkap dengan mobil patrolinya disana, gak ada yang aneh sich. Tapi gue langsung ngomong lagi sama mereka.. “eh fotoin gue yach sama pak polisi nanti gue akan berada di tengah-tengah mereka dengan background mobil polisi dan jalan ijen..” Duch ntar gue disangka napi atau jangan-jangan orang akan mengira inilah dia calon walikota malang berikutnya. Hahahaha..

Keempat, untuk kegilaan gue yang terakhir ini, gue ngeliat ada patung bernama patung TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar Jawa Timur).. Trus gue nanya sama temen-temen gue.. “eh boleh gak yach gue foto di patung itu..??” Dan dengan lugas dan tegasnya mereka bilang.. “Ya boleh lah..” Tapi gue langsung jawab.. “Tapi fotonya naek kepatungnya lho..!!”. Dan dengan pandangan sinis yang sama, mereka pun sepertinya sudah melihat tulisan di jidat gue yang tertulis “Awas, belum sembuh..!?!?” Oh iya gue sedikit norak liat itu patung karna warnanya kalo gak salah agak keemasan. Lucu juga kali yah patungnya pak Sudirman di warnai jadi kuning, ntar khan disangkanya emas.. he..he.. (maaf pak Sudirman..)

Pulang dari pasar minggu, akhirnya gue balik ke hotel lagi dengan yeny yang mengantarkan dengan terlebih dahulu kita nganterin theris pulang. Dan gue sarapan lagi dengan bubur ayam bersama dengan yeny dan makan cilok di pinggiran jalan ijen. Udeh kayak nyonye dan tuan di gedongan.. (red : Benyamin S. song)

First Day in Malang - Sabtu, 20 Oktober 2007

Huihh.. Capek dan lelah namun mengasyikan, itu merupakan kata pertama yang bisa gue ucapkan ketika si siluet sapi ini melangkahkan kakinya di stasiun Malang. Setelah sehari semalaman gue berada digerbong kereta api bernama Gajayana dan disebelah gue ibu-ibu 3 orang bersaudara yang terus-menerus menekan dan mengintervensi serta menggoda gue dengan mempromosikan anak-anak wanitanya sama gue disepanjang perjalanan dari mulai stasiun Gambir Jakarta sampai dengan stasiun Malang. Panjang yach penderitaan gue.. Tapi dengan iman seadanya dan imron se luar biasanya, akhirnya gue kuat untuk menahan godaan untuk tidak jadi banci mupeng sama anak-anak mereka (secara gitu logh, salah satu anak mereka ada yang cantik). But, that is a great experience with a new person in a train.

Oh iya gue belum bilang. Ini merupakan perjalanan ternekat gue ke kota Malang (percaya gak loe ??). Karna, secara yach.. Gue itu gak pernah sendirian kalo ke Malang. Semua hanya untuk R***h.. Andai ia tahu..!!

Cerita ini bermula dari gue mulai menelpon Dina yang katanya mau jemput gue di stasiun, eh ternyata dia lagi dengan indahnya masih berada di Mojokerto, dengan tidak bersalahnya dia masih belum berangkat juga dari sana. Parah emang tuch temen gue yang satu itu, tapi itulah Dina, klo gak gitu bukan Dina namanya. Trus singkat cerita abis gue telpon Dina, akhirnya kuberanikan diri untuk menuju ke Hotel Pelangi, dengan menggunakan becak sebagai alternatif pertama kendaraan tuk menuju ke hotel. Berikut kutipan obrolan aneh gue dengan si tukang becak :

Gue : Pak Becaknya Pak.. *Macam gue aja yang punya perusahaan becak di Malang.*

Tukang Becak : Oh iya Pak, Monggo Pak Monggo..

Gue : Hotel Pelangi deket alun-alun pak..

Tukang Becak : Oh iya, gampang pak.. Silahkan Pak.. *Gampang..!! emangnya maen gundu.*

Gue : Iya gampang pak tapi brapa Pak?? “dengan nada kesel gue nanya”

Tukang Becak : Penglaris Pak, mumpung lebaran..

Gue : Iya tapi berapa pak..?? “Gak lucu khan klo tiba-tiba disuruh bayar lima puluh ribu..”

Tukang Becak : Ya dua puluh ribu aja pak..

Singkat cerita akhirnya setelah gue berjibaku sambil mengeluarkan bau badan serta keringat yang menempel dibadan akhirnya nominal yang disetujui adalah Rp. 12000, itupun setelah gue mencoba menawar seperti banci kaleng dikejar kamtib trus ketemu tukang becak badrun. He..he..

Setelah sampai di Hotel Pelangi deket alun-alun kota malang dan check in, disinilah masalah baru muncul, katanya si Receptionist gue check in terlalu pagi dan alhasil kamarnya masih banyak yang lagi dibersihkan (capek dech..!!), tapi setelah itu akhirnya gue mendapatkan kamar juga klo gak salah nomornya itu 212 (nomor kamar Wiro Sableng untuk tempat nginep orang Sableng). Trus masalah kedua dateng, karna gue mau mandi dan secara gitu logh, handuknya gak ada. Akhirnya setelah hampir menunggu 2 jam akhirnya ada juga yang mengantarkan handuknya. Masalah pertama selesai, kemudian masalah kedua datang, si Dina setelah hampir 3 jam gue mengacangi diri gue sendiri di hotel belum juga menunjukkan batang hidung atau belahan dadanya (gunung kelud kalee..).

Tapi pada akhirnya si Dina datang juga dan ternyata dia datang bersama Ririn (my friend too in previous story). Kemudian kita segera keluar dari hotel untuk makan di didepan stasiun yang disebut dengan nama warna warni (kayak nama acara teve jaman dulu). Lumayan kenyang dan enak karna gue juga harus minum obat. Keluar dari sana kita bingung mau kemana lagi, akhirnya gue putuskan untuk mencari buah tangan berupa keripik yang notabene ada di daerah sanan. Dari depan stasiun kami naek angkot AMG menuju sanan (setelah sebelumnya gue bercanda-bercanda dengan gilanya di pinggir jalan didepan warna-warni, noraks yach..) dan gue sempet memborong satu kardus keripik untuk teman-temanku tercinta.. Duch baeknya diriku.. he..he..

Habis dari sanan dan warni warni, kami kembali lagi ke hotel untuk naruh barang-barang dulu tuk kemudian kami jalan-jalan lagi ke Toko Oen’s untuk membeli es krim dan Teh Botol sosro (makan ati sich). Oh iya ini bagian terserunya, pada saat selesai makan di warna warni, otak gue yang dipenuhi dengan ide gila ini mau mengajak temen-temen gue tuk foto di warna warni, tapi sayang akal sehat mereka masih mengalahkan akal gile gue. Trus ketika sekembalinya dari daerah produksi kripik di Sanan, gue punya pikiran gila lagi tuk foto-foto di pinggiran jalan sambil nunggu angkot yang notabene waktu itu rame banget orang. Tapi akhirnya dengan kegilaan yang makin memuncak akhirnya kami foto-foto di dalam angkot (Ampuunn DJ.. Banci Foto ya Boo...). Trus akhirnya mereka kembali pulang ke mojokerto dan gue sendirian lagi di hotel, malem harinya gue makan di Mc D. Dan rencananya besok gue mau ketemu R***h. Mudah-mudahan semuanya dapat berjalan dengan lancar. Hopefully.. (tetap semangat dan optimis untuk mendapatkannya..).

NB : Seragam kita waktu itu dipenuhi dengan atasan warna hitam.. (Secara yach gue pake kaos item, Dina pake cardigans hitam dan begitu pula ririn. Udah kayak Trio Kwek-Kwek mau tampil di acara pemakaman).

Kayaknya cardigan merupakan hal yang masih cukup baru bagi mereka. Wekss.. Kaburrr.. Piss yo... Noraks yach..!!


Awas ada Banci Shopping tertangkap kamera didalam angkot.. Dan awas ada 2 orang tidak dewasa maen ayunan anak-anak.. hahahaha...